Sabtu, 28 Oktober 2017

Makalah Filsafat Ilmu Teori Kebenaran


TEORI KEBENARAN
ILMIAH DAN NON-ILMIAH

 

TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT ILMU

DISUSUN OLEH KELOMPOK 5 IH-A:
1. ZAKIA ANGGITANIA               (16340017)
2. ADHY PRASETYO                     (16340028)
3. ANINDYA RIZKI WIDODO      (16340052)
4. LENY ROSDIANA                      (16340115)

DOSEN:
DRA. HJ. ERMI SUHASTI S.,MSI.
ILMU HUKUM
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2017



PENDAHULUAN
Kebenaran adalah satu nilai utama dalam kehidupan manusia, sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia, artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan seseorang selalu berusaha memeluk suatu kebenaran.
1)      Kebenaran menurut Bertrand Russel adalah suatu sifat dari kepercayaan dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan kepercayaan tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan tertentu anatara suatu kepercayaan dengan suatu fakta.
2)      Kebenaran menurut Plato dan Aristoteles adalah pernyataan yang dianggap benar itu bersifst koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya. Kebenaran itu tampaknya beersifat relatif sebab apa yang dianggap benar oleh suatu masyarakat atau bangsa, belum tentu dinilai sebagai suatu kebenaran oleh masyarakat atau bangsa lain. Begitu pun sebaliknya.
3)      Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan dengn fakta-fakta itu sendiri, atau pertimbangan (judgment) dan situasi yang dipertimbangkan itu berusaha melukiskannya.[1]
Rumusan Masalah
1.      Teori apa sajakah yang termasuk dalam Teori Ilmiah?
2.      Teori seperti apakah yang mendukung terciptanya Teori Non-Ilmiah?



PEMBAHASAN
1.Kebenaran Ilmiah
            Kebenaran ilmiah adalah suatu pengetahuan yang jelas dan pasti kebenarannya menurut norma-norma keilmuan. Kebenaran ilmiah cenderung bersifat objektif, didalamnya terkandung sejumlah pengetahuan menurut sudut pandang yang berbeda-beda tetapi masih saling berkaitan.
1.         Teori kebenaran Koherensi
Teori ini dianut oleh kaum rasionalis. Menurut teori ini, kebenaran tidak ditemukan dalam kesesuaian antara proposisi dengan kenyataan, melainkan dalam relasi antara proposisi yang sudah ada sebelumnya dan telah diakui sebelumnya.[2]       Sebagai contoh, bila kita beranggapan bahwa semua manusia pasti akan mati adalah pernyataan yang selama ini memang  benar adanya. Jika Ahmad adalah manusia, maka pernyataan Ahmad akan mati itu benar adanya, sebab pertanyaan kedua berkaitan dengan yang pertama.[3]
2.         Kebenaran Korespodensi
Aristoteles sudah meletakan dasar bagi teori kebenaran korenspodensi, yakni kebenaran sebagai penyesuaian antara apa yang dikatakan dengan kenyataan. Sebagai contoh, ada seorang yang mengatakan bahwa Provinsi Yogyakarta itu berada di Pulau Jawa. Pernyataan itu benar karena sesuai dengan kenyataan atau realita yang ada.
3.         Teori Pragmatisme
Pragmatism merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika sekitar akhir abad  ke 19, yang menekankan pentingnya akal budi (rasio) sebagai sarana pemecah masalah dalam kekhidupan manusia baik masalah yang bersifat teoritis maupun praktis.[4]  Sebagai contoh, seseorang mencetuskan ide untuk menciptakan perontok padi, kemudian ide tersebut direalisasikan hingga tercipta alat perontok padi  yang mempermudah pekerjaan manusia. Maka alat perontok padi dianggap benar, karena alat tersebut adalah fungsional dan mempunyai kegunaan.[5]

4.         Kebenaran Performatif
Teori ini berasal dari John Langshaw Austin (1911-1960), Frank Ramsey dan Peter Straw[6].  Teori ini memiliki dua hal penting pertama, pernyataan itu dikatakan benar jika diaktualkan dalam tindakan dan yang kedua pernyataan itu diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritan tertentu. Sebagai contoh, 1 Syawal. Sebagian muslim di Indonesia mengikuti fatwa atau keputusan MUI atau pemerintah, sedangkan sebagian yang lain mengikuti fatwa ulama tertentu atau organisasi tertentu..
5.         Kebenaran Struktural Paradigmatik
Lictenberg, menyatakan bahwa dapat ada hubungan struktural pada berbagai hal yanng sifatnya konstan dan dalam disiplin ilmu yang berbeda. Contohnya, seseorang membahas tentang perhitungan hari, tidak mungkin lepas dari pembahasan peredaran bumi yang menjadi wilayah astronomi dan perhitungan yang menjadi wilayah matematika, dengan rumus atau teori. Antara keduanya jelas berbeda disipllin ilmunya, akan tetapi secara struktural keduanya tidak dapat dipisahkan fungsinya. Hubungan antara disiplin ilmu itulah yang disebut paradigmatik.[7]
6.         Teori Kebenaran Sintaksis
Para penganut teori kebenaran sintaksis, berpangkal pada tolak pada keteraturan sintaksis atau gramatika yang dipakai dalam suatu pernyataan atau tata bahasa yang melekat. Kebenaran ini terkait dengan bagaimana suatu hasil pemikiran diungkapkan dalam suatu pernyataan bahasa yang perlu dirangkai dalam suatu keteraturan sintaksis atau gramatika yang digunakannya.[8]  Sebagai contohnya, adanya perbedaan makna antara kalimat ‘manusia tidak abadi hidupnya’ ataukah ‘tidak abadi hidup manusia’. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan susunan kalimat.[9]
7.         Kebenaran Semantis
Menurut kebenaran semantis, suatu proposisi memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau makna, atau dengan kata lain bahwa proposisi baru mempunyai nilai kebenaran jika ia memiliki arti. Arti ini akan menunjukan makna yang sesungguhnya bila disandarkan pada referensi atau kenyataan. Sebagai contoh yaitu, kata filsafat secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata Philoshopia yang berarti ‘cinta akan kebijaksanaan’. Pengetahuan tersebut dinyatakan benar jika ada referensi yang jelas. Jika tidak mempunyai referensi yang jelas, maka pengetahuan itu dinyatakan salah.[10]

2.Kebenaran non ilmiah
1. Kebenaran Karena Akal Sehat (Common Sense)
Akal sehat adalah serangkaian konsep yang dipercayai dapat memecahkan masalah secara praktis. Kepercayaan bahwa hukuman fisik merupakan alat utama untuk pendidikan adalah termasuk kebenaran akal sehat ini. Penelitian psikologi kemudian membuktikan hal itu tidak benar.
Teori Geosentris yang muncul melalui dugaan para filosuf Yunani kuno, dianggap benar ketika itu hingga abad ke-16 M, meski belakangan dibantah oleh pendukung Heliosentris. Hal yang sama terjadi pada Teori Evolusi yang dimunculkan oleh Darwin yang menyatakan bahwa manusia adalah keturunan kera, itu berasal dari dugaan Darwin saja, dan dianggap benar untuk beberapa abad. Belakangan, Teori Evolusi justru bertentangan dengan bukti-bukti ilmiah.

2. Kebenaran Agama dan Wahyu
Kebenaran mutlak dan asasi dari Allah dan Rasulnya. Beberapa hal masih bisa dinalar dengan pancaindra manusia, tapi sebagian hal lain tidak. Informasi-informasi ghaib yang ada dalam Al-Qur’an, misalnya tentang nikmat dan siksa kubur, dilihat dari kacamata kebenaran ilmiah tentu tidak benar. Tetapi, orang Islam berpendapat nikmat dan siksa kubur pasti benar adanya, melalui kebenaran agama/wahyu yang sifatnya sam’iyyat.
Informasi-informasi ilmiah dari Al-Qur’an yang datang 15 abad lalu berkenaan proses embriologi manusia di alam rahim ibu, terjadinya awan, dan lain-lain, pada masa dulu kebenarannya dianggap tidak ilmiah, tetapi pembuktian dengan teknologi canggih di abad ke-20 menjadikan kebenaran informasi tersebut yang datang dari agama atau wahyu menjadi perantara kebenaran ilmiah.
3. Kebenaran Intuitif
Kebenaran yang didapat dari proses luar sadar tanpa menggunakan penalaran dan proses berpikir. Kebenaran intuitif karena didasarkan pada perasaan, sukar dipercaya dan tidak bisa dibuktikan, hanya sering dimiliki oleh orang yang berpengalaman lama dan mendarah daging di suatu bidang. Contohnya adalah kasus patung Kouros dan Museum Getty di atas, yang ternyata setelah melalui banyak perhitungan ilmiah, justru yang dibenarkan adalah berdasarkan kebenaran intuisi.
4. Kebenaran Karena Trial dan Error
Kebenaran yang diperoleh karena mengulang-ulang pekerjaan, baik metode, teknik, materi dan paramater-parameter sampai akhirnya menemukan sesuatu. Memerlukan waktu lama dan biaya tinggi. Pada beberapa kasus, produk-produk penemuan ilmiah yang kita kenal dewasa ini seperti listrik, lampu pijar, mobil, elektronik, pesawat terbang, dan lain-lain ditemukan oleh para penemunya melalui perantaraan teknik trial and error (coba-salah).

5. Kebenaran Spekulasi
Kebenaran karena adanya pertimbangan meskipun kurang dipikirkan secara matang. Dikerjakan dengan penuh resiko, relatif lebih cepat dan biaya lebih rendah daripada trial-error. Metode ini biasanya dipakai oleh orang-orang yang terjun di dunia bisnis. Ketika benar, ya dikatakan benar secara spekulasi, tidak ilmiah; ketika salah ya dikatakan salah.[11]


PENUTUP
Kesimpulan
Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan dengn fakta-fakta itu sendiri, atau pertimbangan (judgment) dan situasi yang dipertimbangkan itu berusaha melukiskannya. Terdapat 2 besar Teori kebenaran yaitu:
1.Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah adalah suatu pengetahuan yang jelas dan pasti kebenarannya menurut norma-norma keilmuan. Kebenaran ilmiah cenderung bersifat objektif, didalamnya terkandung sejumlah pengetahuan menurut sudut pandang yang berbeda-beda tetapi masih saling berkaitan.
Macam-macam dari teori ini yaitu teori kebenaran koherensi, Kebenaran Korespodensi,Teori Pragmatisme,Kebenaran Performatif,Kebenaran Struktural Paradigmatik, Teori Kebenaran Sintaksis dan Kebenaran Semantis.
2.Kebenaran non-ilmiah
            Kebalikan dari kebenaran ilmiah, kebenaran ini tidak dapat digunakan sebagai acuan pengetahuan yang jelas dan pasti. Yang termasuk yaitu Kebenaran Karena Akal Sehat,agama dan wahyu, intuitif, spekulasi dan kebenaran Karena Trial dan Error.


DAFTAR PUSTAKA

Buku:
-          Ayi Sofyan, 2010, Kapita Selekta Filsafat, Bandung: Pustaka Setia.
-          Susanto, 2010, Filsafat Ilmu,Jakarta:Bumi Aksara.
-          Ermi Suhastini,2012,Pengantar Filsafat Ilmu,Yogyakarta:Prajnya Media.
Jurnal:
-          Ahmad Atabik, Juni 2014 “Teori Kebenaran Perspektig Filsafat Ilmu:   Sebuah Kerangka Untuk Memahami Konstruksi Pengetahuan Agama”, Jurnal Fikrah, Vol 2, No.1.
-          Paulus Wahana, Desember 2008,”Menguak Kebenaran Ilmu Pengetahuan dan Aplikasinya Dalam Kegiatan Perkuliahan”, Jurnal Filsafat, Vol 18, No.3.
Internet:




[1]  Ayi Sofyan, Kapita Selekta Filsafat, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm. 425-426.
[2] Paulus Wahana,”Menguak Kebenaran Ilmu Pengetahuan dan Aplikasinya Dalam Kegiatan Perkuliahan”, Jurnal Filsafat, Vol 18, No.3, Desember 2008, hlm. 279
[3] Susanto, Filsafat Ilmu,(Jakarta:Bumi Aksara, 2010), hlm. 78
[4]  Ahmad Atabik, “Teori Kebenaran Perspektig Filsafat Ilmu: Sebuah Kerangka Untuk Memahami Konstruksi Pengetahuan Agama”, Jurnal Fikrah, Vol 2, No.1, Juni 2014, hlm. 262
[5] Wahyu Sulistyaningsih, “Macam-Macam Teori Kebenaran”, diakses dari  http://sulistya-prtama.blongspot.co.id/2012/05/macam-macam-teori-kebenaran.html?m=1 pada tanggal 20 Oktober 2017 pukul 11:58 WIB.
[6] Ahmad Atabik, Op. cit, hlm. 258
[7] Ermi Suhastini, Pengantar Filsafat Ilmu, cetakan ke-1, (Yogyakarta:Prajnya Media, 2012), hlm. 64
[8] Paulus Wahana, Op. cit, hal.282
[9] Ermi Suhastini, Op. cit, hlm.62
[10]  Adek Ayuni, Kebenaran atau Truth, diakses dari http://kadekayuni.blogspot.co.id/p/blog-page_19.html?1m pada tanggal 21 Oktober 2017 pukul 17.36 WIB
[11] Ahmad Ta’rifin, memaknai teori kebenaran, diakses dari http://tarifin-ahmad.blogspot.co.id/2011/07/memaknai-teori-kebenaran.html pada tanggal 28 Oktober 2017 Pukul 23.25 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Konsep Kebebasan beragama ditinjau menurut UUD dan HAM

             PENDAHULUAN A.Latar belakang Tuntutan yang dikehendaki pada era reformasi saat ini adalah penguatan Hak Asasi Man...