TEORI
KEBENARAN
ILMIAH DAN NON-ILMIAH
TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT ILMU
DISUSUN OLEH KELOMPOK 5 IH-A:
1. ZAKIA ANGGITANIA (16340017)
2. ADHY PRASETYO (16340028)
3. ANINDYA RIZKI WIDODO (16340052)
4. LENY ROSDIANA (16340115)
DOSEN:
DRA. HJ. ERMI SUHASTI S.,MSI.
ILMU HUKUM
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2017
PENDAHULUAN
Kebenaran adalah satu nilai utama dalam kehidupan manusia, sebagai
nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia, artinya sifat manusiawi atau
martabat kemanusiaan seseorang selalu berusaha memeluk suatu kebenaran.
1)
Kebenaran menurut Bertrand Russel
adalah suatu sifat dari kepercayaan dan diturunkan dari kalimat yang menyatakan
kepercayaan tersebut. Kebenaran merupakan suatu hubungan tertentu anatara suatu
kepercayaan dengan suatu fakta.
2)
Kebenaran menurut Plato dan
Aristoteles adalah pernyataan yang dianggap benar itu bersifst koheren atau
konsisten dengan pernyataan sebelumnya. Kebenaran itu tampaknya beersifat
relatif sebab apa yang dianggap benar oleh suatu masyarakat atau bangsa, belum
tentu dinilai sebagai suatu kebenaran oleh masyarakat atau bangsa lain. Begitu
pun sebaliknya.
3)
Kebenaran adalah persesuaian antara
pernyataan dengn fakta-fakta itu sendiri, atau pertimbangan (judgment) dan
situasi yang dipertimbangkan itu berusaha melukiskannya.[1]
Rumusan Masalah
1.
Teori apa sajakah yang termasuk
dalam Teori Ilmiah?
2.
Teori seperti apakah yang mendukung
terciptanya Teori Non-Ilmiah?
PEMBAHASAN
1.Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah
adalah suatu pengetahuan yang jelas dan pasti kebenarannya menurut norma-norma
keilmuan. Kebenaran ilmiah cenderung bersifat objektif, didalamnya terkandung
sejumlah pengetahuan menurut sudut pandang yang berbeda-beda tetapi masih
saling berkaitan.
1. Teori kebenaran
Koherensi
Teori ini dianut oleh kaum rasionalis. Menurut teori ini, kebenaran
tidak ditemukan dalam kesesuaian antara proposisi dengan kenyataan, melainkan
dalam relasi antara proposisi yang sudah ada sebelumnya dan telah diakui
sebelumnya.[2] Sebagai contoh, bila kita beranggapan
bahwa semua manusia pasti akan mati adalah pernyataan yang selama ini
memang benar adanya. Jika Ahmad adalah
manusia, maka pernyataan Ahmad akan mati itu benar adanya, sebab pertanyaan
kedua berkaitan dengan yang pertama.[3]
2. Kebenaran
Korespodensi
Aristoteles sudah meletakan dasar bagi teori kebenaran
korenspodensi, yakni kebenaran sebagai penyesuaian antara apa yang dikatakan
dengan kenyataan. Sebagai contoh, ada seorang yang mengatakan bahwa Provinsi
Yogyakarta itu berada di Pulau Jawa. Pernyataan itu benar karena sesuai dengan
kenyataan atau realita yang ada.
3. Teori Pragmatisme
Pragmatism merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika sekitar
akhir abad ke 19, yang menekankan
pentingnya akal budi (rasio) sebagai sarana pemecah masalah dalam kekhidupan
manusia baik masalah yang bersifat teoritis maupun praktis.[4] Sebagai contoh, seseorang mencetuskan ide
untuk menciptakan perontok padi, kemudian ide tersebut direalisasikan hingga
tercipta alat perontok padi yang
mempermudah pekerjaan manusia. Maka alat perontok padi dianggap benar, karena
alat tersebut adalah fungsional dan mempunyai kegunaan.[5]
4. Kebenaran
Performatif
Teori ini berasal dari John Langshaw Austin (1911-1960), Frank
Ramsey dan Peter Straw[6]. Teori ini memiliki dua hal penting pertama,
pernyataan itu dikatakan benar jika diaktualkan dalam tindakan dan yang kedua
pernyataan itu diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritan tertentu.
Sebagai contoh, 1 Syawal. Sebagian muslim di Indonesia mengikuti fatwa atau
keputusan MUI atau pemerintah, sedangkan sebagian yang lain mengikuti fatwa
ulama tertentu atau organisasi tertentu..
5. Kebenaran
Struktural Paradigmatik
Lictenberg, menyatakan bahwa dapat ada hubungan struktural pada
berbagai hal yanng sifatnya konstan dan dalam disiplin ilmu yang berbeda.
Contohnya, seseorang membahas tentang perhitungan hari, tidak mungkin lepas
dari pembahasan peredaran bumi yang menjadi wilayah astronomi dan perhitungan
yang menjadi wilayah matematika, dengan rumus atau teori. Antara keduanya jelas
berbeda disipllin ilmunya, akan tetapi secara struktural keduanya tidak dapat
dipisahkan fungsinya. Hubungan antara disiplin ilmu itulah yang disebut
paradigmatik.[7]
6. Teori Kebenaran
Sintaksis
Para penganut teori kebenaran sintaksis, berpangkal pada tolak pada
keteraturan sintaksis atau gramatika yang dipakai dalam suatu pernyataan atau
tata bahasa yang melekat. Kebenaran ini terkait dengan bagaimana suatu hasil
pemikiran diungkapkan dalam suatu pernyataan bahasa yang perlu dirangkai dalam
suatu keteraturan sintaksis atau gramatika yang digunakannya.[8] Sebagai contohnya, adanya perbedaan makna
antara kalimat ‘manusia tidak abadi hidupnya’ ataukah ‘tidak abadi hidup
manusia’. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan susunan kalimat.[9]
7. Kebenaran Semantis
Menurut kebenaran semantis, suatu proposisi memiliki nilai benar
ditinjau dari segi arti atau makna, atau dengan kata lain bahwa proposisi baru
mempunyai nilai kebenaran jika ia memiliki arti. Arti ini akan menunjukan makna
yang sesungguhnya bila disandarkan pada referensi atau kenyataan. Sebagai
contoh yaitu, kata filsafat secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu
dari kata Philoshopia yang berarti ‘cinta akan kebijaksanaan’. Pengetahuan
tersebut dinyatakan benar jika ada referensi yang jelas. Jika tidak mempunyai
referensi yang jelas, maka pengetahuan itu dinyatakan salah.[10]
2.Kebenaran non ilmiah
1. Kebenaran Karena Akal Sehat (Common Sense)
Akal sehat adalah serangkaian konsep yang dipercayai dapat memecahkan
masalah secara praktis. Kepercayaan bahwa hukuman fisik merupakan alat utama
untuk pendidikan adalah termasuk kebenaran akal sehat ini. Penelitian psikologi
kemudian membuktikan hal itu tidak benar.
Teori Geosentris yang muncul melalui dugaan para filosuf Yunani
kuno, dianggap benar ketika itu hingga abad ke-16 M, meski belakangan dibantah
oleh pendukung Heliosentris. Hal yang sama terjadi pada Teori Evolusi yang
dimunculkan oleh Darwin yang menyatakan bahwa manusia adalah keturunan kera,
itu berasal dari dugaan Darwin saja, dan dianggap benar untuk beberapa abad.
Belakangan, Teori Evolusi justru bertentangan dengan bukti-bukti ilmiah.
2. Kebenaran Agama dan Wahyu
Kebenaran mutlak dan asasi dari Allah dan Rasulnya. Beberapa hal
masih bisa dinalar dengan pancaindra manusia, tapi sebagian hal lain tidak.
Informasi-informasi ghaib yang ada dalam Al-Qur’an, misalnya tentang nikmat dan
siksa kubur, dilihat dari kacamata kebenaran ilmiah tentu tidak benar. Tetapi,
orang Islam berpendapat nikmat dan siksa kubur pasti benar adanya, melalui
kebenaran agama/wahyu yang sifatnya sam’iyyat.
Informasi-informasi ilmiah dari Al-Qur’an yang datang 15 abad lalu
berkenaan proses embriologi manusia di alam rahim ibu, terjadinya awan, dan
lain-lain, pada masa dulu kebenarannya dianggap tidak ilmiah, tetapi pembuktian
dengan teknologi canggih di abad ke-20 menjadikan kebenaran informasi tersebut
yang datang dari agama atau wahyu menjadi perantara kebenaran ilmiah.
3. Kebenaran Intuitif
Kebenaran yang didapat dari proses luar sadar tanpa menggunakan
penalaran dan proses berpikir. Kebenaran intuitif karena didasarkan pada
perasaan, sukar dipercaya dan tidak bisa dibuktikan, hanya sering dimiliki oleh
orang yang berpengalaman lama dan mendarah daging di suatu bidang. Contohnya
adalah kasus patung Kouros dan Museum Getty di atas, yang ternyata setelah
melalui banyak perhitungan ilmiah, justru yang dibenarkan adalah berdasarkan
kebenaran intuisi.
4. Kebenaran Karena Trial dan Error
Kebenaran yang diperoleh karena mengulang-ulang pekerjaan, baik
metode, teknik, materi dan paramater-parameter sampai akhirnya menemukan
sesuatu. Memerlukan waktu lama dan biaya tinggi. Pada beberapa kasus, produk-produk
penemuan ilmiah yang kita kenal dewasa ini seperti listrik, lampu pijar, mobil,
elektronik, pesawat terbang, dan lain-lain ditemukan oleh para penemunya
melalui perantaraan teknik trial and error (coba-salah).
5. Kebenaran Spekulasi
Kebenaran karena adanya pertimbangan meskipun kurang dipikirkan
secara matang. Dikerjakan dengan penuh resiko, relatif lebih cepat dan biaya
lebih rendah daripada trial-error. Metode ini biasanya dipakai oleh orang-orang
yang terjun di dunia bisnis. Ketika benar, ya dikatakan benar secara spekulasi,
tidak ilmiah; ketika salah ya dikatakan salah.[11]
PENUTUP
Kesimpulan
Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan dengn fakta-fakta
itu sendiri, atau pertimbangan (judgment) dan situasi yang dipertimbangkan itu
berusaha melukiskannya. Terdapat 2 besar Teori kebenaran yaitu:
1.Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah adalah suatu pengetahuan yang jelas dan pasti
kebenarannya menurut norma-norma keilmuan. Kebenaran ilmiah cenderung bersifat
objektif, didalamnya terkandung sejumlah pengetahuan menurut sudut pandang yang
berbeda-beda tetapi masih saling berkaitan.
Macam-macam dari teori ini yaitu teori kebenaran koherensi, Kebenaran Korespodensi,Teori Pragmatisme,Kebenaran Performatif,Kebenaran
Struktural Paradigmatik, Teori Kebenaran Sintaksis dan Kebenaran Semantis.
2.Kebenaran non-ilmiah
Kebalikan dari
kebenaran ilmiah, kebenaran ini tidak dapat digunakan sebagai acuan pengetahuan
yang jelas dan pasti. Yang termasuk yaitu Kebenaran Karena Akal Sehat,agama dan
wahyu, intuitif, spekulasi dan kebenaran Karena Trial dan Error.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
-
Ayi Sofyan, 2010, Kapita Selekta Filsafat,
Bandung: Pustaka Setia.
-
Susanto, 2010, Filsafat Ilmu,Jakarta:Bumi
Aksara.
-
Ermi Suhastini,2012,Pengantar Filsafat Ilmu,Yogyakarta:Prajnya
Media.
Jurnal:
-
Ahmad Atabik, Juni 2014 “Teori Kebenaran
Perspektig Filsafat Ilmu: Sebuah
Kerangka Untuk Memahami Konstruksi Pengetahuan Agama”, Jurnal Fikrah, Vol
2, No.1.
-
Paulus Wahana, Desember 2008,”Menguak
Kebenaran Ilmu Pengetahuan dan Aplikasinya Dalam Kegiatan Perkuliahan”,
Jurnal Filsafat, Vol 18, No.3.
Internet:
[1]
Ayi Sofyan, Kapita Selekta Filsafat, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm.
425-426.
[2]
Paulus Wahana,”Menguak Kebenaran Ilmu Pengetahuan
dan Aplikasinya Dalam Kegiatan Perkuliahan”, Jurnal Filsafat, Vol 18, No.3,
Desember 2008, hlm. 279
[3]
Susanto, Filsafat Ilmu,(Jakarta:Bumi
Aksara, 2010), hlm. 78
[4] Ahmad Atabik, “Teori Kebenaran Perspektig Filsafat Ilmu: Sebuah Kerangka Untuk
Memahami Konstruksi Pengetahuan Agama”, Jurnal Fikrah, Vol 2, No.1, Juni
2014, hlm. 262
[5]
Wahyu Sulistyaningsih, “Macam-Macam Teori
Kebenaran”, diakses dari
http://sulistya-prtama.blongspot.co.id/2012/05/macam-macam-teori-kebenaran.html?m=1
pada tanggal 20 Oktober 2017 pukul 11:58 WIB.
[6]
Ahmad Atabik, Op. cit, hlm. 258
[7]
Ermi Suhastini, Pengantar Filsafat Ilmu, cetakan ke-1, (Yogyakarta:Prajnya
Media, 2012), hlm. 64
[8]
Paulus Wahana, Op. cit, hal.282
[9]
Ermi Suhastini, Op. cit, hlm.62
[10] Adek Ayuni, Kebenaran atau Truth, diakses dari
http://kadekayuni.blogspot.co.id/p/blog-page_19.html?1m pada tanggal 21 Oktober
2017 pukul 17.36 WIB
[11]
Ahmad Ta’rifin, memaknai teori kebenaran,
diakses dari http://tarifin-ahmad.blogspot.co.id/2011/07/memaknai-teori-kebenaran.html
pada tanggal 28 Oktober 2017 Pukul 23.25 WIB
