Jumat, 19 Mei 2017

Huon Class, Kapal Penyapu Ranjau Andalan Australia

Huon Class, Kapal Penyapu Ranjau Andalan Australia
Senin, 15-05-2017
TSM-Dalam suatu kunjungan ke Sydney, Australia di tahun 2013, tepatnya saat menumpangi kapal ferry dari Circular Quay menuju Manly, terlihat beberapa kapal perang AL Australia/RAN (Royal Australian Navy) bersandar di kawasan Port Jackson yang merupakan Fleet Base East RAN. Dari beberapa kapal perang yang sandar, ada kapal perang yang dimensinya terbilang kecil, dan langsung mengingatkan kami pada sosok kapal pemburu/sapu ranjau andalan Satuan Kapal Ranjau (Satran) TNI AL, yakni Tripartite Class, yaitu KRI Pulau Rengat-711 dan KRI Pulau Rupat-712.
Selain punya bentuk lambung da struktur mirip dengan Tripartite Class, dan setelah ditelusuri ternyata kapal yang dimaksud juga berperan sebagai penyapu ranjau, maka rasanya menarik untuk dikupas lebih dalam tentang Huon Class, kapal penyapu ranjau yang menjadi andalan AL Australia sejak tahun 1999. Kemiripan Huon Class dengan Tripartite Class yang buatan galangan GNM Belanda terkhusus pada bagian lambung (meski beda penempatan posisi jangkar) dan kemiripan desain buritan, dimana bagian buritan menjadi tempat perangkat side scan sonar dan crane. Dan yang pasti keduanya dibangun mengikuti standar NATO. Tentang detail kapal panyapu ranjau Tripartite Class telah kami kupas di artikel terdahulu, dan untuk melihatnya dapat meng-klik judul pada tautan dibawah ini.
Keberadaan Huon Class sejatinya adalah wujud kemandirian alutsista yang berasal dari proses ToT (Transfer of Technology). Rancangan Huon Class berasal dari desain kapal penyapu ranjau besutan Italia, Gaeta/Lerici Class. Sebagai pihak pemberi ToT adalah Intermarine SpA dari Italia, dan mitra manufaktur dalam negeri adalah Australian Defence Industries (ADI). Sejak dibangun pada rentang periode 1994 – 2003, total enam unit Huon Class telah diproduksi, yaitu HMAS Huon 82 (1999), HMAS Hawkesbury 83 (2000), HMAS Norman 84 (2000), HMAS Gasgoyne 85 (2001), HMAS Diamantina 86 (2002), dan HMAS Yarra 87 (2003).
Serupa dengan Tripartite Class milik TNI AL, Huon Class dibuat dengan lambung single skin monocoque dengan material khusus yang tidak menimbulkan jejak magnetik, yakni mengadopsi jenis plastik yang diperkuat dengan kaca (Glass-Reinforced Plastic atau GRP). Dalam operasi buru dan sapu ranjau, Huon Class dengan Variable Depth Sonar yang dapat mendeteksi keberadaan obyek ranjau dari jarak 1.000 meter di depan kapal. Saat ranjau yang berada mengambang atau berada di dasar laut, maka kapal akan berada sekitar 200 meter dari obyek kontak ranjau, dan selanjutnya Huon Class meluncurkan wahana khusus untuk menetralisir keberadaan ranjau.
Jenis Variable Depth Sonar disebutkan menggunakan Type 2093 minehunting dari Thales Underwater Systems. Sonar ini beroperasi pada hull-mounted mode or in variable depth mode. Sonar ini berjalan di frekuensi 30 sampai 100 kHz untuk deteksi dan 300 sampai 500 kHz untuk klasifikasi. Sistem ini mencapai rentang deteksi lebih dari 1000 meter dan rentang klasifikasi sasaran lebih dari 200 meter. Sementara wahana jenis Remotely Operated Vehicle (ROV), dalam hal ini yang dipercayakan adalah Saab Bofors Underwater Systems Double Eagle Mk 2 mine disposal vehicles. Setiap kapal membawa dua unit ROV Double Eagle Mk 2. Khusus tentang wahana ROV ini kami telah membahasnya di artikel terdahulu, simak pada judul tautan dibawah ini.
Huon Class punya bobot 732 ton, lebih berat ketimbang Tripartite Class yang bobot totalnya 599 ton. Panjang kapal 52,5 meter dan kapal ditenagai 1 × Fincantieri GMT BL230-BN diesel motor, 1,985 bhp (1,480 kW) 1 x controllable-pitch propeller. Khusus untuk misi berburu ranjau, digunanakan 3 × 120 hp (89 kW) Riva Calzoni azimuth thrusters. Bicara tentang kecepatan, saat menggunakan mesin diesel, dapat dicapai 14 knots (26 km/h). Sedangkan dengan thrusters dicapai 6 knots (11 km/h). Dengan bekal penuh, endurance kapal bisa mencapai 19 hari dengan jarak jelajah 3.000 km pada kecepatan 12 knots.
Dengan awak 46 orang, Huon Class dilengkapi bekal sistem senjata pertahanan yang lebih ampuh dari Tripartite Class, yakni pada haluan terdapat 1 unit kanon reaksi cepat MSI DS 30B kaliber 30mm, sebagai perbandingan pada anjungan Tripartite Class dilengkapi kanon Rheinmetall laras tunggal kaliber 20 mm. Sebagai informasi, kanon kanon reaksi cepat MSI DS 30B serupa juga disematkan sebagai senjata PSU (Penangkis Serangan Udara) di korvet Bung Tomo Class. (Haryo Adjie)
Spesifikasi Huon Class RAN :
- Displacement: 732 tonnes
- Length: 52,5 metres
- Beam: 9,9 metres
- Draught: 3 metres
- Speed: 14 knots
- Range: 3.000 km
- Crew: 46
- Propulsion: 1 x Fincantieri GMT diesel, 3 x Isotta Fraschini 1300 diesels, 3 x electrohydraulic motors, dan Riva Calzoni retractable/rotatable APUs
- Guns: 1 x MSI DS 30B 30mm
- Physical Countermeasures: 2 x Bofors SUTEC Double-Eagle Mk 2 mine disposal vehicles, 2 x MEL Aviation Super Barricade chaff launchers
- Electronic Countermeasures: AWADI Prism
- Radars: Kelvin Hughes 1007
- Sonars: Type 2093
- Combat Data Systems: GEC-Marconi Nautis 2M
- Weapon Control Systems: Radamec 1400N optronic surveillance system

KRI Sultan Hasanuddin-366 Ikuti WPNS Multilateral Sea Exercise

KRI Sultan Hasanuddin-366 Ikuti WPNS Multilateral Sea Exercise
Senin, 15-05-2017
TSM-“Bertempur dan menang” itulah motto KRI Sultan Hasanuddin (SHN)-366 saat bertolak dari Batam pada tanggal 11 Mei 2017 pukul 14.00 menuju perbatasan ZEE Indonesia-Malaysia di perairan Natuna untuk mengikuti Latihan WPNS Multilateral Sea Exercise (WMSX) yang diselenggarakan oleh Singapura. Meskipun sempat diwarnai aksi protes kepada pihak penyelenggara terkait dengan area latihan yg memotong perairan teritorial RI, KRI SHN-366 tetap mengikuti latihan multilateral tersebut setelah pihak AL Singapura (RSN) merevisi area latihannya. Selanjutnya KRI SHN-366 memiliki misi tambahan untuk memonitor pergerakan unsur-unsur asing guna mencegah terjadinya pelanggaran wilayah kedaulatan RI. Singapura, Sabtu, (13/05/2017).
Latihan WMSX yang digelar mulai tanggal 12 Mei 2017 diikuti oleh 9 kapal perang dari Angkatan Laut di kawasan, yaitu KRI Sultan Hasanuddin-366 (Indonesia), RSS Supreme-73 (Singapura), KDB Darussalam-06 (Brunei), BNS Shadinota-F111 (Bangladesh), HMNZ Te Kaha-F77 (Selandia Baru), PLANS Huangshan-570 (China), HMAS Ballarat-FFH155 (Australia), HMNZ Endeavour-A11 (Selandia Baru), RFS Varyag-011 (Rusia).
Mereka bertemu di titik Rendesvous yang telah ditentukan untuk melaksanakan serial latihan selama satu hari meliputi Communication Check, Screening Exercise, Photo Exercise, Flaghoist Exercise, Publications Exercise, Flash Exercise dan Night Steaming in Company (NSIC). Pada serial Flaghoist, Pubex dan Flashex, unsur-unsur dibagi menjadi dua Scene of Action Group (SAG) dan KRI SHN-366 ditunjuk memimpin SAG2 sekaligus memimpin latihan. Seluruh kegiatan latihan dapat dilaksanakan dengan baik, selanjutnya seluruh kapal perang melaksanakan Pre-Internatinal Maritime Review Sail secara mandiri menuju Changi Naval Base untuk mengikuti rangkaian peringatan hari ulang tahun RSN ke-50, antara lain International Maritime Review (IMR) dan IMDEX Asia 2017 sampai dengan tanggal 18 Mei 2017.
Semenjak meninggalkan pangkalan Surabaya, KRI SHN-366 yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Bina Irawan Marpaung telah memiliki kesiapan yang prima baik personel, material, kondisi teknis pendorongan dan Sewaco serta kesiapan dalam mendukung rangakaian kegiatan peringatan ulang tahun RSN ke-50 lainnya, termasuk penyelenggaraan cocktail party dan penampilan kesenian.

Rusia Tertarik Imbal Beli Sukhoi Su-35 dengan Remah Karet Indonesia

Rusia Tertarik Imbal Beli Sukhoi Su-35 dengan Remah Karet Indonesia
Selasa, 16-05-2017
TSM-Pemerintah Rusia tertarik dengan produk karet asal Indonesia. Minat tersebut diutarakan Rusia menanggapi kebijakan Pemerintah Indonesia dalam mengimplementasikan imbal beli dengan negara produsen senjata.
Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemdag) Oke Nurwan bilang, produk karet yang diminati itu adalah crumb rubber alias karet remah. "Mereka tertarik di crumb rubber. Tapi belum kami putuskan," kata Oke, akhir pekan lalu.
Komoditas karet menjadi salah satu yang tengah dikaji oleh pemerintah untuk imbal dagang dengan produk senjata Rusia. Menurut Oke, payung hukum dari jenis produk yang disepakati dengan mekanisme imbal dagang akan dibuat dalam bentuk Peraturan Menteri (Permen).
Dengan Rusia, produk yang diinginkan oleh Pemerintah Indonesia adalah pesawat tempur Sukhoi. Adapun nilai imbal dagang yang akan dilakukan dengan Rusia sekitar US$ 600 juta.
Atas kebijakan imbal dagang ini, Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO) merespon positif. Mereka berharap dengan skema imbal datang ini, maka akan terjadi perluasan pasar sehingga harga karet akan kembali melar setidaknya mencapai US$ 6 per kilogram (kg).
Sebab dalam tiga tahun terakhir harga karet dunia terus anjlok. "Bila harga karet naik, maka petani karet kecil juga akan untung lantaran harganya terangkat," kata Dewan Penasehat GAPKINDO Asril Sutan Amir.
Seperti diketahui, sejak akhir kuartal I lalu, petani karet gigit jari lantaran harganya anjlok. Harga karet ditingkat petani dihargai Rp 6.000 per kg atau turun 40% dibandingkan awal tahun yang berada di kisaran Rp 10.000 per kg. Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Lukman Zakaria bilang, penurunan harga karet tersebut terjadi sejak bulan Maret lalu. "Sudah turun banyak (harga), tinggal Rp 6.000 per kg di tingkat petani," kata Lukman.
Menurunnya harga jual karet petani ini, menurut Lukman, disebabkan karena permintaan dunia yang menurun. Biasanya kontrak baru pembelian karet dilakukan setiap awal tahun. Hal ini yang cukup mempengaruhi harga beli karet ditingkat petani.
Meski tidak merinci, Lukman bilang, dengan banyaknya kontrak baru di awal tahun, maka saat ini stok karet di gudang-gudang konsumen karet dan eksportir masih penuh. "Awal tahun kemarin banyak kontrak baru pemesanan. Jadinya gudang mereka penuh, sehingga harga karet turun," katanya.
Produk bernilai tambah
Implementasi imbal dagang diharapkan mampu memberi dampak positif bagi Indonesia. Selain karet, pemerintah Indonesia berharap terhadap produk-produk lain yang bernilai tambah, contohnya dengan imbal dagang perlengkapan baju militer dengan persenjataan dari Rusia.
Sekadar catatan, implementasi kebijakan imbal dagang tertuang dalam UU Nomor 16 tahun 2012 tentang industri Pertahanan. Jenis alutsista yang dapat diimplementasikan dengan kebijakan ini disesuaikan dengan kebutuhan dan tidak terbatas pada produk tertentu.
Terkait kebijakan imbal beli ini, Kemdag juga telah meluncurkan aturan turunnya yakni Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.44/M-Dag/Per/2016 tentang Ketentuan Imbal Beli Pengadaan Barang Pemerintah Asal Impor.
Beleid ini mengatur pengadaan barang pemerintah yang berasal dari impor dengan nilai tertentu, dan atau berdasarakan peraturan perundang-undangan wajib dilaksanakan melalui imbal beli.Jenis dan nilai barang untuk pengadaan barang pemerintah serta prosentase kewajiban imbal beli ditentukan oleh tim yang dibentuk oleh menteri.
Dalam aturan itu juga disebutkan, barang ekspor Indonesia untuk pemenuhan kewajiban imbal beli hanya komoditi non migas. Perusahaan pemasok atau perusahaan pihak ketiga yang tidak merealisasikan ekspor untuk memenuhi kewajiban imbal hasil dikenakan sanksi kewajiban untuk membayar denda sebesar 50% dari nilai kewajiban imbal beli pengadaan barang pemerintah asal impor.

Meriam Giant Bow Meledak 4 Prajurit TNI AD Gugur Dalam Latihan

Meriam Giant Bow Meledak 4 Prajurit TNI AD Gugur Dalam Latihan

TNI AD diminta keluarkan pernyataan resmi atas insiden di Natuna.
Rabu, 17-05-2017
TSM-Empat orang prajurit TNI AD meninggal dunia akibat insiden saat latihan pendahuluan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Natuna, Kepulauan Riau. Insiden terjadi karena gangguan pada salah satu pucuk meriam Giant Bow dari Batalyon Arhanud 1/K.
"Salah satu pucuk Meriam Giant Bow dari Batalyon Arhanud 1/K yang sedang melakukan penembakan mengalami gangguan pada peralatan pembatas elevasi, sehingga tidak dapat dikendalikan dan mengakibatkan 4 orang meninggal dunia dan 8 prajurit lainnya mengalami luka-luka karena terkena tembakan," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Kolonel Arm Alfret Denny Tuejeh, Rabu (17/5/2017).
Insiden latihan ini terjadi pada sekitar pukul 11.21 WIB siang tadi. Para korban langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.
Saat ini pihak TNI sedang melakukan investigasi atas kejadian tersebut. Latihan PPRC puncaknya rencananya akan dilaksanakan hari Jumat, 19 Mei.
"Pimpinan TNI AD menyampaikan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas gugurnya 4 prajurit terbaik TNI AD dalam insiden kecelakaan latihan di Natuna beberapa saat yang lalu. Semoga almarhum husnul khatimah dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," imbuh Denny.
Dari informasi Puspen TNI, keempat prajurit TNI yang gugur akibat kejadian adalah Kapt Arh Heru Bayu, Praka Edy, Pratu Marwan dan Pratu Ibnu.
Sedangkan prajurit yang terluka adalah Serda Alfredo Siahaan, Sertu Blego, Prada Wahyu Danar, Pratu Bayu Agung, Pratu Ridai, Pratu Didik, Praka Edi Sugianto dan Pelda Dawid.
TNI Diminta Keluarkan Pernyataan Resmi
Tentara Nasional Indonesia (TNI) diminta mengeluarkan pernyataan terkait kecelakaan pada saat gladi bersih Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Tanjung Datuk, Natuna, Kepulauan Riau, Rabu (17/5) pukul 11.00 WIB. Adapun kejadian itu diduga karena meledaknya meriam buatan China merek Chang Chong.
"TNI perlu memberikan penjelasan resmi dan detail mengenai kejadian ini," ujar Anggota Komisi I DPR Elnino M Husein Mohi melalui keterangannya, Rabu (17/5).
Apalagi diketahui, kecelakaan saat latihan tersebut merenggut empat prajurit TNI. Katanya mereka perlu dikembalikan kepada keluarga disertai dengan permintaan maaf. "Dan pemberian penghargaan yang pantas kepada almarhum," sebut Elnino.
Sementara untuk korban yang mengalami luka parah, menurutnya perlu penanganan yang cepat. "Korban yang tidak meninggal dunia mesti segera diselamatkan," tegas politikus Partai Gerindra itu.
Di sisi lain, Elnino meminta TNI segera memberi klarifikasi mengenai proses pembelian alutsista serta sistem quality control yang dijalankan institusi tersebut. "Saya percaya TNI masih dapat diandalkan untuk menjaga republik ini, tapi jangan sampai kejadian seperti ini akan menurunkan wibawa TNI di mata nasional atau di mata internasional," sambungnya.
Dia mengusulkan, komisi I DPR harus mengundang Mabes TNI dan Kemenhan untuk memperoleh informasi mendetail mengenai penyebab dari kecelakaan tersebut. "Komisi I DPR RI perlu mengundang pihak Mabes TNI dan Kemenhan untuk memperoleh penjelasan yang detail dan reliabel," pungkas Elnino.
Diketahui, adapun prajurit yang dikabarkan gugur dalam gladi bersih PPRC di Natuna yakni, Pratu Marwan, Praka Edy, Pratu Ibnu Hidayat, dan Danrai Kapten Arh Herubelum.
Sementara yang selamat namun mengalami luka di bagian tubuhnya yakni, Pratu Bayu Agung, Serda Alpredo Siahaan, Prada Danar, Pratu Ridai, Pratu Didi Hardianto, Sertu Blego Switage.

Senjata Nuklir Jadi Simbol Status Negara Kekuatan Dunia

Senjata Nuklir Jadi Simbol Status Negara Kekuatan Dunia
Kamis, 18-05-2017
TSM-Kepemilikan senjata nuklir ternyata turut menjadi simbol superioritas negara-negara kekuatan dunia. Menurut peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dewi Fortuna Anwar, negara-negara pemilik senjata nuklir mereka bangga dengan kepemilikan senjata tersebut.
Dewi menyebut tidak akan ada satupun negara yang bangga bila memiliki senjata biologis atau senjata kimia, karena mereka akan dicap sebagai penjahat kemanusiaan. Namun, hal itu berbeda jika sebuah negara memiliki senjata nuklir.
"Tapi beda dengan senjata nuklir, dia hanya jelek jika hanya senjata non-nuklir yang memiliki senjata nuklir, tapi bagi negara yang memiliki senjata nuklir, ditempatkan di posisi yang terhormat, tidak merasa signifikan bila tidak lagi memiliki senjata nuklir," kata Dewi pada Rabu (17/5/2017).
Dewi kemudian mengatakan, pengembangan senjata, termasuk senjata nuklir dipicu oleh dua hal yakni konflik dan juga kemampuan ekonomi. Negara-negara yang memilili kemampuan ekonomi yang baik, memiliki kecenderungan untuk mengembangkan senjata.
"Pengembangan senjata tidak lepas dari adanya konflik, atau dari upaya mencegah konflik. Selain itu, kepemilikan senjata nuklir ini juga tidak lepas dari kemampuan ekonomi," ungkapnya.
Dia kemudian menambahkan, saat ini sudah terjadi perlombaan dalam bidang senjata. Tapi, berbeda dari masa Perang Dingin, saat ini perlombaan itu bukan dalam masalah jumlah, tapi pada masalah teknologi.

TNI AL Kerja Sama dengan AL Denmark untuk Pembangunan Kapal Perang

TNI AL Kerja Sama dengan AL Denmark untuk Pembangunan Kapal Perang
Kamis, 18-05-2017
TSM-TNI Angkatan Laut mempererat kerja sama dengan Angkatan Laut Denmark. Kerja sama tersebut ditandai dengan kunjungan Kasal Denmark Chief Staff of Navy, Royal Danish Navy, Rear Admiral Frank Trojahn yang diterima langsung oleh KSAL Laksamana TNI Ade Supandi di Mabesal, Cilangkap, Jakarta, Rabu (17/5).
Laksamana Ade berharap kerja sama yang sudah terjalin selama ini dapat ditingkatkan lebih baik lagi, terlebih kerja sama di bidang alusista khususnya pembangunan kapal perang.
“Kunjungan ini memberikan kontribusi yang positif dalam menjalin hubungan kerja sama yang baik untuk seluruh Angkatan Laut. Saya berharap untuk ke depan, kerja sama yang didasari dengan rasa saling menghormati dan mempercayai akan menumbuhkan semangat kekeluargaan yang kuat,” ujar KSAL.
Semangat “Persaudaraan Angkatan Laut” digemuruhkan oleh para personel Angkatan Laut dari negara yang berbeda untuk saling berinteraksi satu sama lainnya.
Menurutnya, semangat persahabatan adalah suatu fondasi untuk membangun kesepahaman antara negara-negara, warga negara dan pesonel TNI Angkatan Laut.

MIG

MiG, Pesawat Tempur yang Menjadi Andalan Pertahanan Udara di Banyak Negara
Jum'at, 19-05-2017
TSM-Sejak pertama kali dibuat pada tahun 1940, hingga kini salah satu pesawat tempur kesohor asal Rusia, MiG masih menjadi andalan penjaga wilayah udara di banyak negara. Tak pernah terungkap berapa jumlah pesawat ini yang telah dibuat, namun pada tahun 2007 berdasarkan data dari majalah bulanan Airforce Monthly, tercatat lebih dari 11.000 unit telah di ekspor ke seluruh dunia. Pada tahun itu juga, sekitar 6.000 unit masih mengawal wilayah udara di lebih dari 50 negara.
Siapa yang tak kenal MiG, dinasti pesawat tempur hasil karya Artyom Ivanovich Mikoyan bersama Mikhail Iosifovich Guryevich yang amat dikenal ketangguhannya di dunia. Melalui fasilitas perancangannya (OKB-MiG), dua perancang tersebut juga amat dikagumi dunia berhasil menciptakan puluhan tipe pesawat kombatan dengan beragam variannya masing-masing.
Hasil karya mereka yang amat kesohor adalah MiG-29 Fulcrum dengan lebih dari 20 varian dan juga MiG-31 Foxhound, sang interceptor tercepat di dunia.
Kisah kehebatan MiG mulai go international kala mereka berhasil menciptakan jet tempur kedua, MiG-15 (Barat menjulukinya Fagot) yang turut andil dalam Perang Korea. Sontak pesawat ini pun menjadi musuh nomor satu militer Korea Selatan yang didukung Amerika Serikat (AS) dengan P-51 Mustang. Di kemudian hari, MiG-15 baru dapat tertandingi pasca diciptakannya F-86 Sabre oleh AS.
Di mata AS, Fagot meerupakan pesawat tempur pertama yang berhasil menerapkan keunggulan dari perpaduan teknologi sayap miring peninggalan Jerman dan mesin jet rangcangan Inggris. Sifat pemerintah Rusia (saat itu masih Uni Sovyet) yang selalu merahasiakan rekayasa mesin perangnya, semakin membuat pesawat-pesawat rancangan OKB-MiG terkesan lebih menakutkan.
Selain MiG-15 Fagot, ada pula MiG-29 yang juga menoreh popularitas di panggung pertempuran udara dunia. Pesawat tempur yang pertama kali diperkenalkan pada Oktober 1977 ini berhasil mencuri perhatian Barat tatkala pada masa Perang Dingin pesawat ini dikirim oleh AU Sovyet untuk memperkuat pertahanan Jerman Timur. MiG-29 merupakan lawan tanding F/A-18 ­Hornet, Dassault Rafale dan Mirage 2000.
Masih ada pesawat tempur lain yang dibuat OKB-MiG yang juga berhasil membuat dunia tercengang, yakni MiG-21 Fishbed dengan sayap deltanya. Pesawat yang pada Juli 1956 melakukan debut terbang perdananya berhasil memborong prestasi sebagai pesawat tercepat dan tertinggi. MiG-29 pada era tersebut mampu melesat dengan kecepatan 2,1 kali kecepatan suara (Mach 2,1) dan mampu terbang setinggi 59.000 kaki (18 km) di atas permukaan laut. A. Darmawan & Fery Setiawan

Berikut Foto-fotonya:

# MIG-21
Foto Teknologi & Strategi Militer.

#MiG-15 UTI AU Czech
Foto Teknologi & Strategi Militer.

#MiG-21 Fishbed TNI AU.
Foto Teknologi & Strategi Militer.

MiG-29 Fulcrum TUDM
Foto Teknologi & Strategi Militer.

Konsep Kebebasan beragama ditinjau menurut UUD dan HAM

             PENDAHULUAN A.Latar belakang Tuntutan yang dikehendaki pada era reformasi saat ini adalah penguatan Hak Asasi Man...